GERBANGDESA.COM, Bali – Di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali, tradisi tahunan Mekare-kare kembali digelar dengan khidmat. Di arena yang telah disiapkan, para pemuda desa berdiri tegap menggenggam seikat daun pandan berduri sebagai senjata dan tameng rotan sebagai pelindung. Saat aba-aba tetua adat menggema, dua petarung melangkah ke tengah gelanggang, saling menyabetkan duri pandan dalam duel fisik yang intens, namun sarat makna sakral.
Pertarungan dihentikan ketika salah satu peserta mengangkat tangan sebagai tanda menyerah atau ketika tubuh telah tergores duri pandan. Namun, momen paling mengesankan justru hadir setelah duel usai. Tak ada amarah atau dendam tersisa.
Kedua petarung yang sebelumnya saling melukai justru tersenyum, berjabat tangan, dan berpelukan. Pemandangan ini menegaskan bahwa Mekare-kare bukan ajang pelampiasan emosi, melainkan ritual persaudaraan yang menjunjung tinggi sportivitas.
I Putu Suarjana, Bendesa Adat Tenganan Pegringsingan, menjelaskan filosofi mendalam di balik tradisi tersebut. Mekare-kare merupakan wujud penghormatan kepada Dewa Indra yang dalam kepercayaan masyarakat setempat dimuliakan sebagai Dewa Perang.
Lebih dari sekadar pertempuran fisik, ritual ini menjadi simbol pendidikan karakter bagi remaja putra. Mereka ditempa untuk menjadi pelindung keluarga dan penjaga kehormatan desa di masa depan.
Rangkaian ritual diawali sejak pagi dengan prosesi sakral. Para remaja putra dan putri menghaturkan kelapa muda (kuud) ke puncak gunung di kawasan desa. Pembagian peran dilakukan secara harmonis.
Kaum pria bertugas mengumpulkan daun pandan berduri sebagai perlengkapan bertarung, sementara kaum wanita meracik boreh, ramuan tradisional untuk pengobatan luka. Sinergi ini mencerminkan kuatnya nilai gotong royong dalam kehidupan masyarakat Tenganan.
Peran boreh racikan remaja putri sangat penting. Campuran kunyit, lengkuas, bangle, dan cuka dioleskan pada luka sayat akibat duri pandan.
Ramuan herbal tersebut dipercaya mempercepat penyembuhan dan mencegah infeksi, menjadi bukti kearifan lokal dalam bidang pengobatan tradisional.
Puncak rangkaian acara ditutup dengan tradisi megibung atau makan bersama. Warga duduk melingkar menikmati hidangan tradisional seperti sumping, pisang goreng, bantal, dan tape ketan dalam suasana hangat penuh kekeluargaan.
Menurut I Putu Suarjana, megibung menjadi sarana menetralisir semangat berlebih setelah pertarungan agar tidak berkembang menjadi dendam.
Dalam kebersamaan itu, rasa sakit fisik melebur dalam ikatan persaudaraan, menjaga harmoni sosial Desa Tenganan Pegringsingan tetap utuh dari generasi ke generasi. (*/d)
Sumber: detikcom















