GERBANGDESA.COM, Pacitan – Di balik ketenangan Desa Sekar, Kecamatan Donorejo, Kabupaten Pacitan, tersimpan sebuah tradisi tahunan yang memacu adrenalin namun sarat makna spiritual. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Ceprotan, sebuah ritual bersih desa yang digelar setiap bulan Longkang (Zulkaidah) pada hari Minggu atau Senin Kliwon.
Berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat kota, desa ini menjadi saksi bisu pelestarian warisan leluhur yang diyakini berkaitan erat dengan sejarah pembabatan hutan oleh tokoh legendaris, Ki Godek.
Prosesi budaya ini diawali dengan atmosfer yang khidmat namun meriah. Para pemuda desa memikul keranjang bambu berisi kelapa muda atau cengkir, mengaraknya menuju tanah lapang tempat upacara berlangsung.
Menjelang matahari terbenam, suasana semakin magis dengan pementasan “tarian surup” dan pembacaan doa oleh juru kunci. Sebagai penghormatan sejarah, digelar pula sendratari yang mengisahkan pertemuan Ki Godek dan Dewi Sekartaji, yang uniknya diperankan langsung oleh Kepala Desa setempat beserta istrinya.
Puncak acara yang paling dinanti adalah ritual saling lempar kelapa muda antar dua kubu pemuda yang berdiri berseberangan. Kelapa yang digunakan telah dikuliti dan direndam berhari-hari agar tempurungnya melunak demi keamanan.
Di tengah arena pertempuran, diletakkan seekor ayam panggang utuh (ingkung) sebagai simbol pusat perebutan. Ketika aba-aba dimulai, kelapa-kelapa tersebut melayang di udara, membentur tubuh peserta hingga pecah. Masyarakat setempat meyakini, jika kelapa pecah saat mengenai tubuh, orang tersebut akan mendapatkan limpahan rezeki di masa depan.
Di balik riuh rendah aksi saling lempar yang tampak keras, Ceprotan sejatinya mengandung filosofi hidup yang mendalam. Penggunaan kelapa muda atau cengkir dimaknai sebagai akronim dari “kencenging pikir”, yang berarti seseorang harus mengandalkan ketajaman pikiran dalam mencari nafkah.
Sementara itu, aksi saling lempar dan berebut diartikan sebagai simbol bahu-membahu dan kompetisi yang sehat dalam memenuhi kebutuhan hidup, di mana rezeki (simbol ayam panggang) harus diusahakan dengan gigih.
Ritual ini juga menjadi refleksi historis atas kegigihan Ki Godek. Semangat pantang menyerah yang ditunjukkan para peserta Ceprotan merupakan napak tilas perjuangan sang leluhur saat membuka lahan hutan belantara menjadi permukiman yang layak huni.
Nilai-nilai ketangguhan inilah yang ingin terus ditanamkan kepada generasi penerus Desa Sekar, yang kini dikenal sebagai wilayah penghasil padi dan kelapa yang subur.
Rangkaian acara ditutup dengan suasana kekeluargaan yang hangat melalui doa bersama dan makan besar. Ayam panggang yang sebelumnya menjadi “rebutan” di tengah arena, akhirnya disantap bersama-sama oleh warga.
Tradisi yang juga menjadi bagian dari peringatan hari jadi Kabupaten Pacitan ini bukan sekadar tontonan kekerasan, melainkan manifestasi rasa syukur, persatuan, dan doa kolektif masyarakat agar senantiasa diberi keselamatan serta kemakmuran. (*/d)
Sumber: merdeka















