LOMBOK – Berkunjung ke Lombok Tengah tak akan lengkap tanpa menjejakkan kaki di Kampung Adat Sade. Terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, dusun ini tidak hanya menawarkan sekilas kehidupan tradisional Suku Sasak yang autentik, tetapi juga surga bagi para pemburu cendera mata.
Di balik arsitektur rumah adat yang khas, masyarakat Sade menggantungkan kehidupan mereka tidak hanya pada pertanian, tetapi juga pada hasil kerajinan tangan yang kini menjadikan kampung ini sebagai salah satu sentra oleh-oleh ternama di Lombok.
Salim, seorang pemandu lokal di Kampung Adat Sade, menuturkan bahwa pariwisata telah membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Wisatawan dapat berinteraksi dan membeli langsung ragam kriya dari tangan para perajinnya. Produk unggulan yang paling dicari adalah makanan tenun ikat dan songket.
Kain-kain panjang ini memiliki fungsi kultural, biasanya disampirkan di bahu kanan menuju pinggang kiri sebagai pelengkap busana adat atau upacara sakral.
Variasi produk tenun yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari sarung, bahan pakaian, sajadah, hingga penutup tempat tidur (bed cover) . Keistimewaan tenun Sade terletak pada proses pewarnaannya yang sepenuhnya mengandalkan bahan-bahan alami.
Para perajin memanfaatkan kekayaan alam sekitar: kunyit untuk warna kuning, tanaman nila untuk biru, serabut kelapa untuk cokelat, kulit kayu leke untuk merah, hingga daun kecipir untuk menghasilkan warna hijau.
Penggunaan pewarna alami ini memberikan karakteristik visual yang unik dan berbeda dari produsen kain. Warna yang dihasilkan cenderung lebih “kalem”, pudar, dan tidak mencolok mata. Justru, inilah tanda keaslian tenun Sade.
Wisatawan disarankan untuk teliti dan tidak terkecoh; kain dengan warna yang terlalu menyala atau “ngejreng” kemungkinan besar tidak menggunakan pewarna alami tradisional yang menjadi ciri khas kampung ini.
Di balik selembar kain indah, tersimpan dedikasi dan kesabaran yang tinggi. Seorang penenun membutuhkan waktu mulai dari satu minggu hingga tiga bulan untuk menyelesaikan satu karya, tergantung pada tingkat kerumitan motif dan panjang kain yang dibuat.
Faktor durasi pengerjaan dan detail motif inilah yang kemudian menjadi penentu utama nilai jual sebuah kain tenun.
Meski dibuat dengan proses yang rumit, harga yang ditawarkan di Kampung Adat Sade masih tergolong wajar, berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp500 ribu per produk.
Fleksibilitas harga juga menjadi daya tarik tersendiri; saat pengunjung tidak terlalu ramai, harga bisa menjadi lebih bersahabat.
Wisatawan pun tidak perlu ragu untuk melakukan tawar-menawar demi mendapatkan kesepakatan terbaik untuk membawa pulang sebagian warisan budaya Lombok ini. (*/d)
Sumber: tribunnews















