GERBANGDESA.COM, SAMPIT – Batu Bekajang terletak diperbukitan wilayah Desa Pamalian, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng). Namun, keberadaan batu yang mengalirkan air jernih itu tidak banyak diketahui. Bahkan penduduk desa setempat karena lokasinya tersembunyi.
Beruntung pada waktu itu, usai menghadiri acara Isra Mikraj Nabi Muhammad Sholullahu Alaihi Wa’salamdi Mesjid Nurul Yakin Dusun Pemadauan, penulis bersama Camat Kota Besi Gusti Mukafi dan Ustad Syarifudin Al-Banjari diajak Kepala Desa Pamalian Muhammad Arsad, untuk menyempatkan diri menengok bersama-sama keberadaan Batu Bekajang yang terletak disela-sela perbukitan pamalian.
Perjalanan untuk mencapai lokasi diperkirakan 1 jam. Akses yang ditempuh memacu adrenalin karena medannya cukup sulit dan menanjak, jalan dilewati itupun cuma satu jalur dan hanya bisa untuk kendaraan roda 4, apabila ada kendaraan lain berlawan arah harus ada yang mengalah.
Kondisi jalan rusak parah terlihat kiri kanan jalan dan sempit serta terdapat ranting kayu yang siap untuk menggores kendaraan. Untuk kendaraan roda 4 jenis sedan, disarankan untuk sementara jangan coba-coba memaksakan ke sana.
Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, tibalah kami di suatu tempat yang dituju. Batu Bekajang itu berada di bawah perbukitan. Disekitar lokasi terdapat pepohonan tinggi menjulang dan dikelilingi batu-batu sedimen warna kehitaman.
Didekat Batu Bekajang terdapat Makam Datu Syekh Ali Hanapi Bin Abu Thalib. Panjang kuburan sekitar 4 meter. Akan tetapi, mengenai kebenaran akan makam keramat tersebut masih digali informasinya.
Menurut cerita Kepala Desa Pamalian Muhammad Arsad, air jernih itu mengalir dari atas bukit pamalian menuju lembah. Anehnya, air itu hanya mengalir di dekat makam keramat. Konon kabarnya, kata dia, air itu tidak pernah kering walaupun musim kemarau panjang.
“Air yang mengalir disela-sela batu itu benar-benar jernih dan tidak pernah keruh. Bahkan, tidak pernah kering,” kata Arsad ketika menjelaskan kepada Camat Kota Besi Gusti Mukafi dan Ustad Syarifudin Al-Banjari saat berada dilokasi Batu Bekajang.
Merasa penasaran, ustad Syarifudin mencoba membuktikan kemudian turun untuk cuci muka dan tangan menggunakan air yang mengalir deras disela-sela bebatuan. “Alhamdulillah, airnya terasa lembut, sejuk dan tidak berbau,” kata ustad Syarifudin.
Sementara itu, menurut Muhammad Arsad, Batu Bekajang diberinama karena sumber mata air berada di atas perbukitan bebatuan. Di atas batu tempat air mengalir terlihat ada batu berbentuk mirip atap yang menaungi, jadilah “Batu Bekajang”.
Ada Jejak Telapak Kaki Raksasa dan Gua
Menurut informasi, keajaiban di Batu Bekajang Bukit Pemalian tidak hanya mengenai adanya air jernih itu saja. Konon di atas bukit itu terdapat sebuah telapak kaki raksasa dan disekitar bukit ada gua. Katanya, apabila masuk ke gua tersebut apabila membawa obor, api obor itu akan padam, apabila membawa senter tidak berfungsi.
Untuk pengembangan kedepannya supaya Batu Bekajang dijadikan salah satu tempat kunjungan wisata sepertinya bakal terkendala. Sebab, lahan untuk akses jalan menuju lokasi tidak lagi milik warga desa setempat, informasinya telah dijual kepada PT TASK 3, perusahaan perkebunan kelapa sawit yang operasional di wilayah Desa Pamalian, Kecamatan Kota Besi, Kotim, Kalteng.
Disisi lainnya, pemerintah Desa Pamalian tidak ada anggaran untuk memperjuangkan agar Batu Bekajang yang memiliki keunikan tersendiri bisa disulap sebagai desa wisata.
Harapan besar tentunya hanya melalui pemerintah daerah setempat, supaya situs langka itu tetap terjaga dan terawat dengan baik. (*)
Penulis : Arifin















