GERBANGDESA.COM, Sampit – Sungai Mentaya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, berubah menjadi ruang kebersamaan warga pada Rabu (12/8/2026).
Anak-anak hingga orang dewasa beramai-ramai turun ke sungai mengikuti tradisi Mandi Safar yang masih dipertahankan secara turun-temurun.
Suasana tersebut terlihat di sejumlah kawasan bantaran Sungai Mentaya, termasuk Kecamatan Kota Besi.
Sejak pagi, warga mulai mempersiapkan berbagai keperluan, salah satunya daun sawang yang menjadi bagian dari pelaksanaan tradisi.
Setelah salat Zuhur, warga kemudian berdatangan ke tepian sungai dan mengikuti Mandi Safar bersama keluarga serta kerabat.
Warga Kota Besi, Dewi, mengatakan persiapan telah dilakukan sejak pagi.
Menurutnya, tradisi tersebut menjadi salah satu kegiatan yang selalu dinantikan masyarakat setiap tahun.
“Sejak pagi sudah mulai mempersiapkan Mandi Safar pakai daun sawang. Habis Zuhur sudah mulai mandi Safar,” ujarnya.
Bagi masyarakat, Mandi Safar bukan sekadar kegiatan turun ke sungai.
Tradisi ini juga menjadi momentum untuk berkumpul, bersilaturahmi, sekaligus mempertahankan warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Rangkaian kegiatan di sejumlah wilayah bahkan turut diisi dengan doa bersama di kampung sebelum maupun setelah pelaksanaan tradisi.
Kemeriahan Mandi Safar juga memperlihatkan keterlibatan berbagai kelompok usia.
Anak-anak dan remaja tampak antusias bermain air, sementara orang tua mengikuti kegiatan bersama keluarga.
Pertemuan lintas generasi tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal tradisi secara langsung sekaligus memperkuat upaya masyarakat menjaga warisan budaya lokal.
Di tengah perubahan zaman, Mandi Safar tetap menemukan tempat di hati masyarakat Kotim.
Tradisi ini sekaligus memperlihatkan eratnya hubungan warga dengan Sungai Mentaya, yang bukan hanya menjadi jalur transportasi dan sumber penghidupan, tetapi juga ruang sosial tempat kebersamaan dan tradisi masyarakat terus tumbuh.
Ramainya warga yang kembali turun ke sungai menjadi penanda bahwa warisan lama masih mampu menyatukan masyarakat dan terus diteruskan kepada generasi berikutnya. (sgt/fin)















