Janji Dermaga Bapinang Mangkrak, Lapangan Sport Center Jadi Lumpur

GERBANGDESA.COM SAMPIT – Nirwan Edy, ahli waris tanah hibah pembangunan Dermaga Penyeberangan Bapinang, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, kembali angkat suara soal janji pemerintah daerah yang tak kunjung ditepati.

Pasalnya, hingga kini dermaga yang semestinya sudah difungsikan 2025 justru terbengkalai, dan dampaknya berimbas langsung pada fasilitas masyarakat lain, yakni salah satunya Lapangan Sport Center Bapinang.

Menurut Nirwan, lapangan yang diharapkan menjadi pusat kegiatan olahraga dan acara kenegaraan di Bapinang tidak pernah diuruk sebagaimana janji awal.

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur kala itu beralasan, pengurukan lapangan menunggu dermaga penyeberangan benar-benar fungsional. Namun janji itu tinggal janji, sebab dermaga hingga kini tak kunjung diresmikan.

“Kalau dermaga fungsional, lapangan Sport Center Bapinang pasti bisa segera ditinggikan. Tidak ada lagi banjir, dan masyarakat bisa menggunakannya secara maksimal,” ujar Nirwan, yang juga merupakan tenaga pendidik di SMKN 1 Pulau Hanaut.

Kondisi ini menimbulkan masalah nyata. Pada peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia baru-baru ini, upacara yang digelar di lapangan tersebut berlangsung dengan suasana memprihatinkan.

Tanah lapangan yang becek membuat peserta upacara, mayoritas para pelajar, harus rela kakinya ambles ke dalam lumpur.

Lebih ironis, pembawa Sang Saka yang berseragam putih ikut terciprati lumpur. “Ini bukan hanya soal fasilitas yang tak layak, tapi juga menyangkut kehormatan acara kenegaraan,” tegas Nirwan.

Padahal, lapangan sepakbola yang kini lebih sering tergenang itu menjadi pusat kegiatan warga. Pada musim kemarau, masyarakat menjadikannya arena olahraga hingga lokasi acara besar desa. Namun saat hujan, lapangan berubah menjadi kubangan.

Nirwan menegaskan, dermaga penyeberangan Bapinang sebenarnya sudah melalui proses tender dan seharusnya tidak ada alasan lagi untuk mangkrak.

Ia berharap pemerintah segera membuka mata dan menjadikan fasilitas vital itu fungsional agar janji pengurukan lapangan bisa ditepati.

“Lapangan Sport Center itu bukan hanya untuk olahraga, tapi juga simbol kebanggaan desa. Jangan sampai generasi muda kita terus beraktivitas di lumpur hanya karena janji yang tak ditepati,” pungkas Nirwan dengan nada kecewa. (fin/fin)

Related Post