Istana Jelawat, Perjuangan Maswiyah Menjaga Produk Lokal Kotim Tetap Punya Pasar

GERBANGDESA.COM, Sampit – Mempertahankan usaha bukan sekadar soal bertahan di tengah persaingan, tetapi juga tentang menjaga harapan banyak orang yang menggantungkan hidup dari usaha tersebut.

Prinsip itulah yang terus dipegang Maswiyah dalam mengembangkan Rumah Oleh-oleh Istana Jelawat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.

Sejak dirintis pada 2017 bersama kakaknya, Istana Jelawat tidak hanya menjadi tempat masyarakat mencari buah tangan khas Sampit.

Lebih dari itu, toko tersebut menjadi wadah pemasaran bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal untuk memperkenalkan produk mereka kepada pasar yang lebih luas.

Berlokasi di Jalan Ais Nasution, Ruko 8E, deretan Bank Muamalat, Istana Jelawat menawarkan beragam produk unggulan daerah.

Mulai dari amplang ikan jelawat, abon, keripik, kopi lokal, pakaian bermotif Dayak, hingga kerajinan tas dan topi berbahan anyaman rotan.

Ide mendirikan toko oleh-oleh khusus berawal dari pengalaman Maswiyah yang kerap mendapat pertanyaan dari teman-temannya mengenai tempat membeli buah tangan khas Sampit.

Saat itu, belum banyak toko yang menyediakan berbagai produk khas daerah dalam satu lokasi.

“Awalnya karena teman-teman sering bertanya kalau mau belanja oleh-oleh khas daerah itu di mana. Waktu itu memang belum ada toko khusus yang menyediakan semuanya. Kalau di swalayan ada, tetapi sifatnya umum,” ungkap Maswiyah saat ditemui, Minggu (8/11/2026).

Dari gagasan sederhana tersebut, Maswiyah kemudian membangun Istana Jelawat dengan mengedepankan produk hasil olahan UMKM setempat.

Baginya, usaha tersebut harus mampu memberikan manfaat lebih luas, terutama membuka kesempatan bagi produk lokal agar dikenal dan memiliki pasar.

Komitmen itu diwujudkan dengan mendorong para pelaku UMKM untuk terus meningkatkan kualitas produk.

Tidak hanya dari segi rasa, tetapi juga kemasan, tampilan, serta kelengkapan perizinan agar produk semakin layak bersaing.

Nama Istana Jelawat sendiri terinspirasi dari ikan jelawat yang menjadi salah satu ikon kebanggaan masyarakat Sampit.

Karena itu, berbagai olahan ikan jelawat, seperti amplang dan abon, menjadi produk unggulan yang banyak dicari konsumen.

Namun, perjalanan usaha yang telah berjalan selama bertahun-tahun tersebut tidak selalu mulus.

Dua tahun pertama menjadi masa yang cukup berat bagi Maswiyah dalam membangun dan memperkenalkan usahanya kepada masyarakat.

Tantangan semakin besar ketika pandemi Covid-19 melanda. Aktivitas masyarakat menurun dan jumlah pembeli merosot tajam. Bahkan, untuk mendapatkan pemasukan sebesar Rp50 ribu dalam sehari saja saat itu terasa sulit.

Setelah melewati masa pemulihan pandemi, ujian kembali datang melalui dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kotim.

Kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas pembelian dan berdampak terhadap penjualan.

Maswiyah mengungkapkan, omzet usahanya saat ini mengalami penurunan sekitar 50 hingga 60 persen.

Angka tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan usaha yang selama ini juga menjadi tempat pemasaran produk UMKM lokal.

Meski menghadapi kondisi yang tidak mudah, Maswiyah memilih tetap bertahan. Ia menyadari bahwa di balik keberadaan Istana Jelawat terdapat para pelaku UMKM yang membutuhkan ruang untuk memasarkan hasil produksinya.

Baginya, keberhasilan tidak hanya diukur dari keuntungan yang diperoleh, tetapi juga dari perkembangan produk-produk lokal yang semakin baik dan mampu menjangkau konsumen lebih luas.

Ia bahkan melihat perubahan nyata pada sejumlah mitra UMKM yang selama ini menitipkan produknya.

Produk yang dahulu dikemas secara sederhana kini mulai memiliki kemasan lebih menarik dan dilengkapi izin edar.

“Dari awalnya mereka hanya menitipkan produk dengan kemasan biasa, sekarang sudah ada yang memiliki kemasan jauh lebih baik dan izin edar yang lengkap,” katanya.

Perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa pendampingan melalui pemasaran dan peningkatan kualitas produk dapat memberikan dampak positif bagi pelaku usaha kecil.

Dengan kemasan yang lebih baik dan perizinan yang semakin lengkap, produk lokal memiliki peluang lebih besar untuk diterima konsumen.

Pasar Istana Jelawat pun tidak hanya terbatas pada masyarakat Sampit. Sejumlah pembeli dari berbagai daerah di Kalimantan hingga Pulau Jawa juga datang untuk mencari produk khas daerah yang sulit ditemukan di tempat asal mereka.

Dari sisi harga, produk yang ditawarkan cukup beragam. Amplang dijual mulai Rp10 ribu, kopi lokal Rp15 ribu, gantungan kunci Rp3 ribu hingga Rp5 ribu, sedangkan pakaian tersedia mulai kisaran Rp50 ribuan.

Keberadaan konsumen dari luar daerah tersebut menunjukkan bahwa produk khas Kotim memiliki potensi untuk dikenal lebih luas.

Tinggal bagaimana pelaku usaha terus menjaga kualitas, memperkuat kemasan, dan memanfaatkan peluang pasar yang tersedia.

Di tengah berbagai tantangan, Maswiyah berharap para pelaku UMKM tidak mudah kehilangan semangat ketika menghadapi kegagalan.

Menurutnya, setiap kesulitan seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki usaha, bukan alasan untuk berhenti mencoba.

“Jangan karena pernah gagal kemudian langsung patah semangat. Kita harus mau belajar, berani mencoba, dan terus memperbaiki produk. Kalau memang ingin berusaha, pasti ada jalan,” pungkasnya.

Perjalanan Istana Jelawat menjadi gambaran bahwa menjaga keberlangsungan produk lokal membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menjual. Diperlukan keberanian, konsistensi, dan kepedulian untuk tumbuh bersama para pelaku UMKM.

Melalui usaha yang dirintisnya, Maswiyah berupaya memastikan produk-produk khas Kotawaringin Timur tidak hanya dikenal di daerah sendiri, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menembus pasar yang lebih luas. (hmn/fin)

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Related Post