GERBANGDESA.COM, Sampit – Ketua Komisi II DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Akhyannoor, menegaskan perlunya pembangunan total jaringan listrik ke Kecamatan Pulau Hanaut sebagai solusi atas persoalan lama yang tak kunjung terselesaikan.
Ia menyebut, jaringan lama yang selama ini digunakan sudah tidak layak dan menjadi sumber utama ketidakstabilan listrik di wilayah tersebut.
Menurutnya, jaringan listrik baru akan dibangun melalui jalur induk dari Bagendang, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU), menuju Pulau Lepeh hingga ke Desa Hanaut.
Jalur ini sekaligus akan menggantikan jaringan lama dari Kecamatan Seranau sepanjang kurang lebih 22 kilometer.
“Kita tidak bisa lagi bergantung pada jaringan lama. Ini harus dibangun total agar masalah tidak terus berulang,” tegas Akhyannoor kepada wartawan gerbangdesa.com, usai rapat bersama PLN rayon Palangkaraya, kemarin.
Selama ini, masyarakat Pulau Hanaut harus menghadapi kondisi listrik yang tidak stabil, bahkan kerap padam hingga berminggu-minggu.
Hal itu dipicu oleh kondisi kabel terbuka yang rentan gangguan, termasuk dari hewan seperti kera dan kalong yang sering menyebabkan kerusakan jaringan.
“Gangguan seperti ini sudah terlalu sering terjadi. Ini bukti jaringan lama memang bermasalah serius,” ujar wakil rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) III Kotim itu.
Tak hanya itu, Akhyannoor menyentil bahwa kondisi tiang listrik yang dipenuhi semak belukar juga memperparah situasi.
Akses yang sulit membuat petugas kesulitan melakukan perbaikan saat terjadi gangguan.
“Perawatan jadi tidak maksimal karena akses terhambat. Akibatnya, masyarakat yang terus dirugikan,” katanya.
Dengan pembangunan jaringan baru dari gardu induk di Bagendang, Akhyannoor memastikan pasokan listrik ke Pulau Hanaut akan jauh lebih stabil.
Terlebih, PLN menjanjikan kapasitas hingga 100.000 kWh untuk menopang kebutuhan listrik masyarakat.
“Ini harus menjadi jawaban nyata, bukan sekadar janji. Listrik harus stabil dan bisa dinikmati secara layak,” tandasnya.
Politisi Partai Gerindra itu juga menegaskan pihaknya akan mengawal ketat realisasi proyek tersebut.
PLN ditargetkan mampu menyelesaikan pembangunan tower dalam waktu tiga bulan terhitung mulai April 2026.
“Kita akan pantau langsung di lapangan. Kalau tidak sesuai komitmen, tentu akan kita pertanyakan. Masyarakat Pulau Hanaut berhak mendapatkan listrik yang layak,” pungkasnya. (fin/fin)















