GERBANGDESA.COM, Semarang – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menempatkan desa wisata sebagai strategi utama dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Model pengembangan ini dinilai efektif karena menumbuhkan ekonomi berbasis komunitas sekaligus memperluas produk wisata daerah.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut desa wisata mampu menciptakan rantai ekonomi baru seperti homestay, kuliner, kerajinan hingga jasa pemandu. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi faktor yang memperkuat keberlanjutan sektor pariwisata.
“Kita punya aglomerasi wisata Kopeng, Borobudur, sama Rawapening. Kita punya seribu desa wisata,” ujarnya.
Data BPS 2024 mencatat kunjungan wisatawan nusantara ke Jawa Tengah mencapai 68,88 juta orang atau naik 22 persen dibanding 2023. Wisatawan mancanegara turut meningkat 28 persen menjadi 593.168 kunjungan, sehingga ikut memperbesar kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD.
Desa wisata di Jawa Tengah dikembangkan secara bertahap dari level lokal menuju destinasi bertaraf internasional. Kawasan aglomerasi seperti Kopeng, Rawapening dan Borobudur turut dijadikan penggerak untuk memperkuat daya tarik kawasan.
Diversifikasi wisata juga diperluas, tidak hanya pada wisata alam dan sejarah, tetapi merambah ke kuliner, budaya dan wisata ramah muslim. Pendekatan ini ditujukan untuk memperpanjang masa kunjungan sekaligus memperbesar nilai belanja wisatawan.
Dengan skema tersebut, desa wisata diproyeksikan menjadi pilar penting pembangunan pariwisata Jawa Tengah, karena mampu menggerakkan ekonomi desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (*)
Sumber: jatengprov.go.id














