GERBANGDESA.COM, Sampit – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Kotawaringin Timur mengungkap temuan mengejutkan dari tes urine mendadak yang digelar di DPRD Kotim. Dari 147 peserta, lima orang dinyatakan positif mengandung zat psikotropika, terdiri dari tiga kepala desa dan dua aparatur sipil negara (ASN). Kasus ini kini resmi diserahkan ke BNN untuk ditindaklanjuti secara menyeluruh.
Kepala BNN Kotim, Muhammad Fadli, menjelaskan bahwa pemeriksaan lanjutan langsung dilakukan hingga malam hari pascates urin. Tim rehabilitasi melakukan pendalaman melalui tanya jawab untuk mengetahui jenis serta alasan penggunaan.
“Mereka mengaku memakai obat-obatan seperti PCC dan sejenisnya. Ada yang berdalih karena sakit perut, ada pula yang memakainya untuk menunjang stamina kerja,” ujarnya kepada wartawan media siber gerbang desa usai kegiatan ‘Your Life Your Choice Keren Tanpa Narkoba’ di lantai II Aula Anggrek Setda Kotim, Kamis (20/11/2025).
Pengakuan paling mencolok datang dari tiga kepala desa yang menyebut obat-obatan itu digunakan sebagai doping saat bekerja di kebun atau saat beban kerja tinggi. Mereka mengaku merasa tak mampu bekerja tanpa zat tersebut.
“Kami baru tahu bahwa stres dan tekanan kerja jadi salah satu pemicu. Setelah positif, kami gali lagi: beli di mana, sudah berapa lama, dan dengan siapa mereka mendapatkannya,” tegas Fadli.
Meski demikian, BNN Kotim memastikan kelima orang tersebut tidak terindikasi sebagai pengedar, melainkan penyalahguna. Mereka diwajibkan menjalani program wajib lapor selama tiga bulan, dua kali seminggu setiap Senin dan Kamis.
“Ini tanggung jawab kami untuk memonitor. Mereka tetap kami awasi, apalagi sebagian bekerja di luar kota,” tambahnya.
Selain lima orang itu, BNN Kotim turut mengumpulkan satu ASN lain yang diduga pengguna lama berdasarkan keterangan dokter. Namun karena tidak ditemukan bukti barang dan hanya terbukti positif dari urine, prosesnya tetap diarahkan ke rehabilitasi medis.
“Lebih baik kami tangani sebelum mereka tertangkap dalam kasus yang lebih berat,” kata dokter yang menangani pemeriksaan.
Fadli menegaskan, tes urin akan terbongkar karena temuan ini menunjukkan masih adanya pencegahan narkoba di lingkungan pemerintahan. Dari total peserta, hanya lima yang positif. Namun BNN Kotim menilai temuan ini cukup menjadi alarm serius.
“Ini terbuka, bukan ditutup-tutupi. Para kepala dinas dan anggota dewan harus tahu kondisi sebenarnya agar pengawasan dapat diperketat. Jangan sampai jaringan narkoba menyusup lebih dalam ke pemerintahan kita,” tandasnya. (fin/fin)














