Regenerasi Pengrajin di Sampit Jadi Tantangan, Permintaan Ukiran Dayak Tinggi Tak Mampu Terpenuhi

GERBANGDESA.COM, Sampit – Tingginya permintaan pasar terhadap kerajinan ukir khas Dayak Kalimantan Tengah belum mampu diimbangi dengan ketersediaan tenaga pengrajin.

Minimnya sumber daya manusia (SDM) yang menguasai seni ukir tradisional menjadi tantangan utama yang kini dihadapi pelaku usaha kerajinan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Kondisi tersebut diungkapkan Mufti Rahman, pemilik usaha kerajinan Baniang 42 Jaya di Kelurahan Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau.

Usaha yang telah berdiri sejak 1989 itu masih konsisten memproduksi berbagai kerajinan khas Dayak, mulai dari talawang, miniatur kapal naga, ukiran mandau, jam dinding hingga aneka suvenir bernilai seni.

Namun, keterbatasan jumlah pengrajin membuat kapasitas produksi belum mampu memenuhi tingginya permintaan pasar, termasuk dari mancanegara.

“Kendala utama kami saat ini bukan hanya modal, tetapi minimnya SDM. Penerus seni ukir khas Kalimantan Tengah jumlahnya sangat sedikit,” ujar Mufti, Jumat (17/7/2026).

Menurutnya, sejumlah calon pembeli dari Malaysia, Korea Selatan, hingga China pernah mengajukan kerja sama dengan pesanan dalam jumlah besar.

Namun peluang tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena proses pembuatan ukiran masih dilakukan secara manual dan membutuhkan ketelitian tinggi.

Untuk menyelesaikan satu miniatur kapal naga, misalnya, diperlukan waktu sekitar tiga hingga empat hari agar karakter khas ukiran Dayak tetap terjaga.

“Kadang ada permintaan puluhan bahkan ratusan unit, tetapi kami belum mampu memenuhinya karena tenaga pengrajin sangat terbatas,” ungkapnya.

Melihat kondisi tersebut, Mufti menyatakan siap membuka pelatihan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, yang ingin mempelajari seni ukir tradisional.

Ia menilai regenerasi pengrajin menjadi kunci untuk menjaga kelestarian budaya sekaligus mengembangkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

“Bukan hanya soal usaha, ini juga soal menjaga budaya. Kalau tidak ada penerusnya, lama-kelamaan seni ukir khas daerah kita bisa hilang,” kata Mufti.

“Saya yakin dengan pembinaan yang berkelanjutan, ukiran Dayak akan terus hidup dan menjadi kebanggaan sekaligus sumber penghasilan masyarakat,” tambahnya. (hmn/fin)

Share this post:

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Related Post