Pemilahan Sampah dari Hulu Jadi Kunci, KemenPU Soroti Paradoks Biaya Murah

GERBANGDESA.COM, Jakarta – Pemilahan sampah sejak dari sumber dinilai sebagai langkah paling krusial dalam menekan biaya sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah di Indonesia. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menegaskan, pendekatan yang hanya berfokus pada pengolahan di hilir, seperti di tempat pemrosesan akhir (TPA), justru berpotensi membebani anggaran karena membutuhkan teknologi yang lebih kompleks.

Kepala Subdirektorat Wilayah I Direktorat Sanitasi Ditjen Cipta Karya Kementerian PU, Sandhi Eko Bramono, menyatakan bahwa pengelolaan sampah akan jauh lebih efisien jika dimulai dari hulu. Dengan pemilahan sejak awal, sampah yang masuk ke tahap pengolahan sudah lebih bersih dari material sulit diolah seperti logam dan kaca, sehingga mempermudah proses lanjutan, termasuk teknologi waste to energy (WtE).

Menurut Sandhi, perilaku masyarakat menjadi faktor penentu dalam besaran biaya pengelolaan sampah. Jika masyarakat disiplin memilah sampah dari sumbernya, maka beban biaya pengolahan dapat ditekan. Sebaliknya, tanpa pemilahan, pemerintah harus menanggung biaya lebih tinggi akibat kebutuhan teknologi pengolahan yang lebih rumit.

Ia menyoroti adanya paradoks di Indonesia, di mana sebagian masyarakat tidak melakukan pemilahan sampah, namun tetap menginginkan biaya pengelolaan yang murah. Kondisi ini berbeda dengan negara seperti Singapura, yang meski tidak mengandalkan pemilahan dari sumber, masyarakatnya bersedia membayar lebih mahal untuk pengolahan berbasis teknologi canggih di hilir.

Di sisi lain, pengembangan proyek waste to energy tidak dapat diterapkan di semua daerah. Berdasarkan regulasi terbaru, proyek ini mensyaratkan ketersediaan pasokan sampah dalam jumlah besar, dukungan lahan, serta kesiapan anggaran. Studi kelayakan menjadi tahapan penting untuk memastikan proyek berjalan efektif, terutama jika melibatkan kerja sama lintas daerah dalam skema aglomerasi.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wahyu Purwanta, menambahkan bahwa banyak pemerintah daerah masih menghadapi kendala dalam penyusunan studi kelayakan yang komprehensif. Keterbatasan data, anggaran, serta kapasitas teknis menjadi tantangan utama. Dengan berbagai hambatan tersebut, pemilahan sampah dari sumber tetap dipandang sebagai solusi paling mendasar untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efisien dan berkelanjutan.(*/d)

Sumber: Kompas

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Related Post