GERBANGDESA.COM, Sampit – Api yang membakar lahan di Jalan Haji Usup, Kelurahan Basirih Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kotawaringin Timur (Kotim), justru membuka sebuah misteri yang selama ini terkubur semak belukar.
Setelah kawasan itu hangus dilalap api, sebuah sapundu atau patung kayu tiba-tiba terlihat berdiri di tengah lahan.
Warga sebelumnya sama sekali tidak mengetahui keberadaan benda tersebut, sehingga kemunculannya memunculkan tanda tanya besar tentang apa yang pernah ada di kawasan itu pada masa lalu.
Ketua RW 07 Basirih Hilir, Ruspandi, mengatakan sapundu tersebut baru terlihat setelah kebakaran menyingkap vegetasi yang selama ini menutupinya.
Padahal, lahan itu sempat dimanfaatkan warga untuk menanam padi hingga dua musim.
“Kita bingung di situ. Masalahnya kan yang tanam padi itu bukan orang Dayak. Jadi mungkin mereka tidak tahu bahwa itu sapundu,” ujar Ruspandi, Jumat (4/9/2026).
Misteri semakin kuat karena sapundu itu ditemukan dalam kondisi relatif utuh meski berada di tengah lahan yang sudah beberapa kali terbakar.
Bagian atas atau kepalanya hanya mengalami sedikit kerusakan akibat api, sedangkan bentuk badan dan kedua tangannya masih terlihat jelas.
Ruspandi memperkirakan patung setinggi sekitar satu meter tersebut terbuat dari kayu ulin dan berada sekitar 100 meter dari Jalan Haji Usup.
“Cuma di atas kepalanya saja ada sedikit terbakar. Sapundunya masih utuh, tangannya masih kelihatan dan bentuk badannya juga masih jelas,” ungkapnya.
Bukan hanya sapundu yang pernah ditemukan di kawasan tersebut.
Menurut Ruspandi, warga juga sempat menemukan pengayuh sampan, wadah air minum berbahan kayu ulin, hingga potongan kayu berukir menyerupai wajah manusia.
Sebagian benda bahkan tidak disadari nilai historisnya dan akhirnya dibuang.
“Itu kan dua kali kebakaran sudah lahan itu. Kalau dulu-dulu itu sering juga kebakaran. Nah ternyata tahun ini ada muncul itu sapundu,” katanya.
Kini, kemunculan sapundu setelah kebakaran membuka pertanyaan baru mengenai masa lalu kawasan tersebut.
Cerita warga menyebut area itu diduga pernah menjadi bagian dari permukiman masyarakat Dayak, tetapi dugaan tersebut belum dapat dipastikan tanpa penelitian lebih lanjut.
Bentuk sapundu, jenis kayu, usia benda, serta konteks lokasi penemuannya perlu dikaji untuk mengungkap apakah patung itu benar merupakan peninggalan budaya masa lampau atau memiliki sejarah lain yang belum diketahui. (hmn/fin)















