GERBANGDESA.COM, Jakarta – Fenomena sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mulai meninggalkan marketplace seperti Shopee dan TikTok Shop diperkirakan tidak akan menghambat pertumbuhan perdagangan elektronik di Indonesia. Meski para penjual mengeluhkan kenaikan biaya logistik dan potongan komisi platform, pemerintah menilai transaksi digital nasional masih memiliki prospek pertumbuhan yang kuat.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan, mengatakan perkembangan e-commerce nasional dipengaruhi banyak faktor, sehingga perpindahan penjual dari satu platform ke platform lain tidak akan berdampak signifikan terhadap nilai transaksi digital secara keseluruhan. Menurutnya, pelaku UMKM akan terus mencari saluran penjualan yang dianggap paling efisien dan menguntungkan bagi usaha mereka.
Pemerintah, lanjut Iqbal, terus menjalin koordinasi dengan berbagai platform marketplace dan pemangku kepentingan guna menjaga ekosistem perdagangan digital tetap sehat dan kompetitif. Transparansi serta praktik usaha yang adil dinilai menjadi kunci agar platform digital, sektor logistik, dan pelaku UMKM dapat berkembang secara seimbang tanpa saling membebani.
Selain itu, Kemendag juga mendorong adanya komunikasi yang lebih intensif antara platform dan para penjual agar iklim perdagangan digital tetap kondusif, khususnya bagi produk lokal. Para pelaku usaha pun didorong memanfaatkan berbagai kanal penjualan digital melalui strategi multichannel maupun omnichannel untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing usaha.
Di tengah dinamika tersebut, Indonesia tetap menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara. Laporan Momentum Works dalam “Ecommerce in Southeast Asia 2026” mencatat nilai transaksi kotor atau gross merchandise value (GMV) e-commerce Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar US$57,7 miliar atau hampir Rp1.000 triliun, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran US$56,5 miliar.
Shopee masih menjadi pemimpin pasar dengan pangsa sekitar 54 persen atau GMV mencapai US$31,2 miliar. Sementara gabungan TikTok Shop dan Tokopedia menempati posisi kedua dengan pangsa 38 persen, disusul Lazada dan Blibli. Data tersebut menunjukkan bahwa meski terjadi perpindahan penjual antarplatform, sektor perdagangan digital Indonesia tetap tumbuh dan menjadi salah satu motor utama ekonomi nasional.(*/d)
Sumber: Bisnis.com















