Bambu yang Menggerakkan Ekonomi: Inovasi UMKM dari Desa Penglipuran

GERBANGDESA.COM, Bangli – Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, tidak hanya dikenal dunia karena kebersihan dan tata ruangnya yang memukau, tetapi juga karena kearifan lokalnya dalam mengelola sumber daya alam.

Di balik rimbunnya hutan bambu yang mengelilingi desa adat ini, tersimpan potensi ekonomi yang kini menjadi denyut nadi bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat. Bambu, yang dulunya hanya dipandang sebagai tanaman konservasi, kini telah bertransformasi menjadi komoditas unggulan yang menggerakkan roda perekonomian warga.

Secara ekologis, keberadaan hutan bambu di Desa Penglipuran memegang peranan vital dalam menjaga keseimbangan alam. Pande Ketut Diah Kencana, seorang peneliti dari Universitas Udayana, menjelaskan bahwa selama ini bambu berfungsi sebagai benteng konservasi lingkungan.

Akar-akarnya yang kuat tidak hanya efektif mencegah terjadinya tanah longsor di kawasan tersebut, tetapi juga berperan penting dalam memunculkan mata air baru yang menjamin ketersediaan air bagi kehidupan desa.

Namun, perspektif terhadap bambu mulai mengalami pergeseran seiring dengan penelitian mendalam yang dilakukan oleh akademisi Universitas Udayana. Pande Ketut Diah Kencana menantang paradigma lama dengan sebuah pertanyaan kritis mengenai keberlanjutan hidup masyarakat.

Ia menekankan bahwa menjaga lingkungan saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kesejahteraan ekonomi warganya. Berangkat dari kegelisahan tersebut, Pande bersama sejumlah mahasiswa melakukan riset intensif untuk memaksimalkan nilai guna bambu agar tidak sekadar menjadi penjaga hutan, melainkan juga sumber penghidupan.

Hasil dari inovasi dan penelitian tersebut kini mulai terlihat nyata. Pemanfaatan bambu di Penglipuran telah berkembang jauh melampaui sekadar bahan bangunan atau kerajinan anyaman sederhana.

Melalui sentuhan teknologi dan kreativitas, tanaman ini kini diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi, mulai dari bahan baku sabun, sampo, hingga berbagai produk kecantikan. Diversifikasi produk ini membuka peluang pasar yang lebih luas dan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal tersebut.

Dampak positif dari hilirisasi produk bambu ini dirasakan langsung oleh masyarakat, sebagaimana dialami oleh Adi (48), salah satu warga Penglipuran. Sebagai perajin yang telah menggeluti profesinya selama hampir dua dekade, Adi menjadi saksi bagaimana kerajinan bambu mampu menopang kehidupan keluarganya.

Selama 18 tahun berkarya, produk-produk buatan tangannya tidak hanya dinikmati oleh wisatawan lokal, tetapi juga telah didistribusikan oleh para agen hingga ke luar daerah, membuktikan bahwa kualitas kerajinan desa ini mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Fenomena ini sejalan dengan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Indonesia yang mencatat bahwa mayoritas mata pencaharian penduduk Desa Penglipuran adalah perajin dan pedagang suvenir.

Sinergi antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi kreatif ini membuktikan bahwa bambu di Penglipuran bukan sekadar tanaman biasa, melainkan aset berharga yang menjamin keberlanjutan ekologi sekaligus kemandirian ekonomi masyarakatnya. (*/d)

Sumber: Kompas

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Related Post