Menelisik Keagungan Rumah Adat Ratenggaro

GERBANGDESA.COM, Sumba timur – Di Desa Adat Ratenggaro, Pulau Sumba, rumah bukan sekadar tempat bernaung dari panas dan hujan. Lebih dari itu, hunian tradisional yang disebut Uma ini adalah manifestasi spiritual yang disakralkan oleh penduduk setempat.

Arsitektur vernakular ini berfungsi ganda sebagai tempat tinggal sekaligus sarana peribadatan yang menghubungkan manusia dengan dimensi ilahiah. Struktur sosial dan spiritual desa ini tercermin dalam empat bangunan utama: Uma Katode Kataku, Uma Kalama sebagai lambang ibu, serta Uma Katode Kuri dan Uma Katode Amahu yang melambangkan saudara dari garis ayah dan ibu.

Tata letak desa ini tidak dirancang secara acak, melainkan mengikuti pola kosmologi yang ketat mewakili empat arah mata angin. Posisi rumah-rumah ini saling berhadapan menciptakan keseimbangan magis.

Uma Katode berdiri di ujung paling selatan menghadap ke utara, seolah menatap langsung ke Uma Kalama yang menghadap selatan. Sementara itu, Uma Katode Kuri di timur dan Uma Katode Amahu saling berhadapan dalam poros timur-barat.

Orientasi selatan-utara ini bukan tanpa alasan; titik paling selatan yang menghadap utara menjadi pengingat abadi bahwa nenek moyang mereka berasal dari arah utara.

Keaslian Desa Ratenggaro terjaga melalui konsistensi material dan bentuk yang tak pernah berubah dari masa ke masa. Seluruh bangunan dikonstruksi menggunakan bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti kayu, bambu, dan batu.

Tiang-tiang kayu besar nan kokoh menopang atap menjulang tinggi, sementara dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang memungkinkan sirkulasi udara berjalan optimal. Penggunaan material ini bukan hanya soal fungsi, tetapi juga simbolisasi hubungan harmonis manusia dengan alam.

Setiap elemen arsitektur di Ratenggaro mengandung makna simbolis yang mendalam, menjalin koneksi tripartit antara manusia, alam, dan leluhur (Marapu). Rumah adat ini menjadi pusat gravitasi kehidupan sosial dan budaya masyarakat Sumba.

Di sinilah berbagai ritual penting digelar, mulai dari upacara perkawinan, penyembelihan hewan kurban, hingga ritual keagamaan yang sakral.

Dinding-dinding anyaman bambu tersebut menjadi saksi bisu doa-doa yang dipanjatkan dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sebagai salah satu warisan budaya paling menakjubkan di Sumba, Rumah Adat Ratenggaro memegang peran vital dalam mempertahankan identitas kultural masyarakatnya.

Namun, arus modernisasi dan perubahan gaya hidup kini menjadi tantangan nyata bagi kelangsungan tradisi ini.

Eksistensi rumah-rumah bermenara tinggi ini menghadapi ujian zaman, menuntut ketahanan nilai-nilai lokal di tengah gempuran budaya luar yang semakin masif.

Oleh karena itu, upaya pelestarian dan edukasi kepada generasi muda menjadi sangat krusial agar kekayaan budaya ini tidak lenyap ditelan waktu.

Filosofi di balik arsitektur Ratenggaro mengajarkan kebijaksanaan tentang keseimbangan hidup hubungan vertikal dengan pencipta dan hubungan horizontal dengan sesama serta alam.

Melestarikan Ratenggaro berarti menjaga memori kolektif tentang siapa kita dan dari mana kita berasal, sebuah warisan peradaban yang harus tetap dilestarikan. (*/d)

Sumber: liputan 6

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Related Post