SAMPIT – Di tengah geliat pembangunan infrastruktur di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, wajah Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS) justru memperlihatkan ironi. Empat jembatan utama yang menjadi urat nadi pergerakan masyarakat Samuda kini berada dalam kondisi nyaris ambruk.
“Kondisinya sangat miris dan ini harus menjadi perhatian serius pemerintah,” tegas Eddy Mashamy, politisi Partai Amanat Nasional (PAN), saat melakukan reses perseorangan masa sidang I tahun 2025 di Daerah Pemilihan 3 Kotawaringin Timur.
Empat jembatan tersebut bukan sekadar penghubung antarwilayah, mereka adalah denyut kehidupan warga Samuda dan sekitarnya. Ribuan warga melintasi setiap hari: anak sekolah, pedagang, petani kebun, hingga masyarakat dari Kecamatan Pulau Hanaut yang harus menyeberangi jembatan Sungai Basirih dan Sungai Jejangkit untuk menuju Pasar Samuda.
Namun, kondisi lapangan yang disaksikan Eddy justru jauh dari kata layak.
- Jembatan Sapihan Besar di Kelurahan Basirih Hilir (±35 meter) kini lantainya dari kayu ulin mulai mengelupas. Pagar memang masih kokoh, tetapi muara sungai tertutup lumpur tebal, menghambat arus air menuju Sungai Mentaya.
- Jembatan Sapihan Kecil di Kelurahan Samuda Kota (±37 meter) bahkan lebih memprihatinkan. Pagar kiri-kanan goyah, kepala jembatan terkikis arus sungai, dan lantainya berlubang di beberapa titik. Kondisi ini sangat rawan, apalagi saat malam hari atau saat dilalui kendaraan bermuatan berat.
- Jembatan Sungai Jejangkit di Desa Jaya Kelapa (±35 meter) mengalami penurunan pada kepala jembatan. Aspal di bagian selatan retak membentang, pagar kiri-kanan nyaris roboh, dan lantai berlubang. Arus sungai yang deras diduga mempercepat kerusakan struktur.
- Jembatan Sungai Basirih di Desa Basirih Hulu, meski masih bisa dilalui, sudah menunjukkan tanda-tanda kritis. Kepala jembatan bagian utara menurun, pengaman terkikis, dan lantai ulin mulai terkelupas.
Eddy yang juga pernah menjabat sebagai Camat Pulau Hanaut mengaku sudah lama menerima laporan dari masyarakat terkait kondisi empat jembatan ini. Namun, baru pada masa reses kali ini ia menyaksikan langsung bagaimana infrastrukur vital itu nyaris runtuh.
“Saya sudah sering menerima laporan dari warga, tapi setelah turun langsung, ternyata kondisinya jauh lebih parah dari yang dibayangkan,” ujarnya dengan nada kecewa.
Politisi PAN ini mendesak Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur untuk segera bertindak sebelum korban jiwa berjatuhan. Ia menyadari kondisi fiskal daerah saat ini sedang ketat, dengan penurunan dana transfer pusat (DAK/DAU) mencapai Rp 383 miliar, namun menilai alasan itu tidak cukup untuk menunda perbaikan infrastruktur yang menjadi urat nadi ekonomi masyarakat.
“Dengan dana yang masih tersedia, saya sangat berharap keempat jembatan ini bisa diprioritaskan pembangunannya. Jangan tunggu sampai ada yang jatuh dulu baru bergerak,” tandas Eddy.
Bagi masyarakat Samuda, jembatan-jembatan ini bukan sekadar struktur kayu dan besi, melainkan penghubung harapan. Setiap hari, ratusan kendaraan melintas di atas lantai ulin yang bolong-bolong, dengan napas tertahan antara keberanian dan ketakutan.
Mereka menunggu langkah nyata dari pemerintah daerah. Karena bila tak segera diperbaiki, bukan hanya akses yang terputus, tetapi juga kepercayaan masyarakat yang runtuh. (fin/fin)















