GERBANGDESA.COM SAMPIT – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotawaringin Timur Bima Eka Wardhana menegaskan bahwa ritual Tiwah di Desa Merah, Kecamatan Tualan Hulu, bukan sekadar seremoni keagamaan, tetapi juga warisan budaya Dayak yang layak diangkat sebagai daya tarik wisata.
“Tiwah ini sangat positif. Bagi umat Hindu Kaharingan, ritual ini adalah bagian dari keyakinan. Tapi dari sisi kebudayaan dan pariwisata, Tiwah merupakan warisan yang harus dilestarikan, bahkan bisa jadi magnet wisata,” ucapnya disela-sela menghadiri acara, belum lama ini.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dijalankan sebagai tradisi turun-temurun. Dinas pariwisata, kata Bima, akan mendorong agar Tiwah dipromosikan lebih luas, sehingga bisa menjadi agenda wisata budaya tahunan di Kotim.
Bima menjelaskan, langkah konkret yang sudah dilakukan pihaknya adalah melakukan sosialisasi dan promosi melalui berbagai saluran.
“Kita selalu berupaya mengenalkan ritual ini, baik lewat media sosial maupun tatap muka dengan masyarakat. Harapannya semakin banyak yang tahu, tertarik, dan datang menyaksikan,” katanya.
Ia menegaskan, jika dikelola dengan serius, Tiwah berpotensi mendatangkan wisatawan, sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Dayak.
Disamping itu, lanjut Bima, Disbudpar Kotim berkomitmen agar ritual Tiwah tidak hanya dipandang sebagai perayaan lokal, tetapi juga mampu menjadi etalase budaya daerah.
“Kami ingin Tiwah bukan hanya dikenal oleh masyarakat Dayak saja, tapi juga bisa dilihat wisatawan luar sebagai bagian dari kekayaan budaya Kalimantan Tengah,” tandasnya. (fin/fin)















