Harmoni Spiritual dan Alam Jejak Larung Sesaji di Pesisir Selatan Blitar

GERBANGDESA.COM, Blitar- Indonesia dikenal sebagai etalase keragaman budaya yang kaya, di mana tradisi leluhur masih dipegang teguh sebagai identitas bangsa. Salah satu manifestasi kearifan lokal yang tetap lestari hingga kini dapat ditemui di pesisir selatan Jawa Timur, tepatnya melalui upacara adat Larung Sesaji.

Tradisi sakral ini secara rutin digelar oleh masyarakat pesisir di Pantai Tambakrejo, Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Setiap tanggal 1 Muharram atau 1 Suro dalam penanggalan Jawa, ritual ini menjadi magnet spiritual, bahkan tetap dijalankan dengan khidmat meski dalam kesederhanaan saat masa pandemi lalu.

Menelisik sisi historisnya, akar tradisi Larung Sesaji diyakini bermula dari perjalanan hidup Ki Atmo Wijoyo atau Atmaja. Ia adalah seorang prajurit Mataram dan pengikut setia Pangeran Diponegoro.

Pasca penangkapan sang Pangeran oleh kolonial Belanda, Ki Atmo melarikan diri mencari perlindungan hingga ke hutan belantara yang berujung di laut selatan Blitar.

Di tempat pelarian inilah, Ki Atmo menginisiasi sebuah tasyakuran sederhana yang seiring waktu bertransformasi menjadi tradisi larungan megah yang dikenal saat ini.

Rangkaian perhelatan budaya ini biasanya dimulai sejak malam sebelumnya dengan pagelaran wayang kulit yang berfungsi sebagai hiburan rakyat sekaligus ritual pembuka. Puncak acara pada pagi harinya kerap dihadiri oleh pemangku kebijakan, termasuk Bupati Blitar, Rini Syarifah, beserta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Prosesi resmi ditandai dengan pemukulan gong dan penyerahan selendang kepada juru kunci, dilanjutkan dengan pembacaan sejarah serta tujuan larungan untuk mengingatkan kembali masyarakat pada filosofi keseimbangan hidup.

Inti dari prosesi ini terletak pada doa bersama atau ujub yang dipimpin langsung oleh ketua adat setempat. Lantunan doa tersebut berisi ungkapan rasa syukur mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan hasil laut yang telah menopang kehidupan nelayan selama setahun terakhir.

Lebih dari itu, ritual ini memuat harapan kolektif agar di masa mendatang para nelayan senantiasa diberikan keselamatan, terhindar dari marabahaya saat melaut, serta terus mendapatkan rezeki yang berkah.

Bagi pemerintah daerah, pelestarian tradisi di Pantai Tambakrejo—yang terkadang pelaksanaannya bergantian dengan Pantai Serang bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kewajiban kultural. Bupati Blitar menegaskan bahwa sedekah laut ini adalah wujud nyata syukur nelayan kepada Sang Pencipta.

Pentingnya tradisi ini semakin dikukuhkan dengan penetapan Larung Sesaji sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, sebuah status yang menjamin perlindungan terhadap eksistensi budaya tersebut.

Lebih dari sekadar atraksi wisata, Larung Sesaji mengandung makna filosofis yang dalam tentang harmonisasi kehidupan. Tradisi ini mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian, melainkan berdampingan dengan alam semesta dan dimensi spiritual lainnya.

Melalui persembahan hasil bumi dan laut yang dilarung ke samudra, masyarakat Blitar mengirimkan pesan abadi tentang kerendahan hati, penghormatan terhadap sejarah perjuangan leluhur, serta komitmen menjaga keseimbangan ekosistem laut yang menjadi sumber penghidupan mereka. (*/d)

Sumber: liputan 6

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Related Post