GERBANGDESA.COM, Sumut – Di ujung barat Sumatera, Nias menyimpan denyut tradisi yang masih hidup dan bernafas hingga hari ini. Di Desa Bawomataluo, warisan leluhur tidak hanya dikenang, tetapi dipertunjukkan dengan gagah melalui lompatan batu yang legendaris dan tarian perang yang penuh semangat kepahlawanan.
Di sinilah setiap gerakan, setiap lompatan, dan setiap denting irama menjadi kisah tentang keberanian, kehormatan, dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi sebuah pengalaman autentik yang memikat siapa pun yang datang menyaksikannya.
Di Desa Bawomataluo, tradisi lompat batu atau Fahombo bukan sekadar ajang pamer kekuatan fisik semata. Bagi masyarakat setempat, ritual ini merupakan ritus peralihan yang sakral, menandai transisi seorang pemuda menuju kedewasaan.
Keberhasilan melompati susunan batu yang tinggi dianggap sebagai bukti kematangan mental dan fisik, serta kesiapan seorang laki-laki untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar dalam struktur sosial masyarakat desa.
Namun, pesona Desa Bawomataluo tidak berhenti pada atraksi lompat batunya saja. Desa ini juga dikenal sebagai tempat kelahiran Tari Perang atau yang dalam bahasa setempat disebut Tari Fataele.
Tarian ini memiliki ikatan historis dan emosional yang kuat dengan tradisi lompat batu, sehingga keduanya seolah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam setiap pagelaran budaya.
Seringkali, Tari Fataele dipentaskan beriringan dengan pelaksanaan tradisi lompat batu, menciptakan harmoni pertunjukan yang dramatis dan memukau.
Secara visual, Tari Fataele menyuguhkan estetika yang gagah dan penuh warna. Para penari mengenakan busana tradisional berwarna-warni yang mencolok, lengkap dengan mahkota yang menghiasi kepala, menyimbolkan status dan kehormatan.
Gerakan mereka yang dinamis dan bertenaga seolah menghidupkan kembali semangat para leluhur yang berjuang mempertahankan tanah kelahiran mereka di masa lampau.
Atribut yang dikenakan para penari semakin mempertegas nuansa kepahlawanan dalam tarian ini. Layaknya seorang ksatria yang siap terjun ke medan laga, setiap penari dilengkapi dengan persenjataan lengkap berupa tameng, pedang, dan tombak.
Alat-alat ini bukan sekadar properti, melainkan simbol pertahanan diri yang merefleksikan keberanian dan ketangkasan para prajurit Nias dalam menghalau serangan musuh.
Melalui perpaduan harmonis antara tradisi lompat batu dan Tari Fataele, Desa Bawomataluo berhasil merawat ingatan kolektif tentang kejayaan masa lalu.
Kedua warisan budaya ini tidak hanya menjadi atraksi wisata yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara, tetapi juga berfungsi sebagai media edukasi bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan identitas budaya mereka yang luhur dan berbobot. (*/d)
Sumber: merdekacom














