GERBANGDESA.COM, Sampit – Upaya mediasi konflik kepengurusan Gapoktanhut Bagendang Raya di Kantor Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (11/3/2026), berubah menjadi kericuhan.
Pertemuan yang semula digelar untuk meredakan polemik justru memicu amarah warga hingga berujung dugaan penganiayaan terhadap Camat Mentaya Hilir Utara, Zikrillah, di dalam ruang pertemuan kantor kecamatan.
Ketegangan memuncak saat pembahasan pengesahan tanda tangan pemilihan Ketua Gapoktanhut tidak menghasilkan keputusan yang diharapkan sebagian warga.
Kekecewaan yang menumpuk akhirnya meledak. Massa yang hadir dalam forum mediasi tiba-tiba memadati ruang pertemuan dan mendesak camat hingga situasi tak lagi terkendali.
Dalam rekaman video yang beredar luas di grup WhatsApp dan media sosial, mantan Sekcam Baamang itu tampak terdesak di tengah kerumunan warga yang semakin emosional.
Dorongan dari berbagai arah membuat Zikrillah nyaris tersungkur. Kancing bajunya terlepas dan pakaiannya dilaporkan robek akibat desakan massa yang berjubel di ruangan tersebut.
“Habis gaes, baju pak camat sama celananya sobek, kasian,” ujar seorang warga yang merekam peristiwa itu dalam video yang kemudian beredar luas di media sosial.
Kericuhan akhirnya berhasil diredam setelah personel Polsek Sei Sampit bersama anggota Koramil yang berada di lokasi turun tangan.
Aparat segera menghalau warga yang tersulut emosi dan mengevakuasi camat dari kepungan massa, sebelum situasi berubah menjadi bentrokan terbuka.
Di balik insiden tersebut, konflik berakar dari sengketa kepengurusan sekaligus pengelolaan lahan sawit di bawah Gapoktanhut Bagendang Raya.
Kelompok Tani Buding Jaya menolak pergantian kepengurusan karena mengklaim memiliki hak atas sekitar 1.800 hektare lahan sawit.
Mereka juga menuding selama empat tahun terakhir lahan itu justru dikuasai oleh oknum di luar kelompok tani.
Penjelasan bahwa pengesahan kepengurusan bukan kewenangan camat untuk menandatangani secara langsung disebut memicu kekecewaan sebagian warga dalam mediasi tersebut.
Hingga kini aparat keamanan masih berjaga untuk mengantisipasi potensi konflik lanjutan, sementara pihak kecamatan maupun kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait insiden dugaan penganiayaan terhadap camat tersebut. (fin)















