GERBANGDESA.COM, Sumedang – Desa Cilembu di Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat menjadi sentra utama dari komoditas pertanian unggulan ini. Kepala Desa Cilembu, Asep Suhara, mengungkapkan bahwa desanya kini menjadi jantung produksi dengan luas lahan garapan mencapai 100 hingga 150 hektar.
Pengembangan lahan bahkan telah meluas hingga ke kecamatan tetangga seperti Rancakalong, Tanjungsari, dan Sukasari, namun tetap dengan pengawasan ketat terhadap standar Indikasi Geografis (IG) untuk menjaga kualitas dan keaslian rasa.
Dampak ekonomi dari budidaya ubi ini sangat signifikan bagi demografi desa yang berpenduduk sekitar 5.500 jiwa tersebut.
Saat ini, terdapat lima kelompok tani aktif yang menaungi sekitar 500 petani ubi. Komoditas ini telah menciptakan ekosistem ekonomi yang mandiri dan menyerap banyak tenaga kerja lokal.
Fenomena urbanisasi di mana warga mencari pekerjaan ke luar desa kini berkurang drastis, berganti dengan geliat ekonomi lokal di mana kaum bapak bertani dan kaum ibu terlibat dalam proses pengolahan serta pemasaran produk.
Transformasi ekonomi ini bermula dari sejarah panjang yang berakar pada tahun 1982, bertepatan dengan momen pemekaran Desa Cilembu dari wilayah induknya, Desa Haurngombong.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa saat itu, Daud Suhayat, ubi Cilembu mulai diperkenalkan kepada dunia luar melalui cara yang sederhana namun berkesan.
Para tamu kedinasan, baik dari instansi pemerintahan provinsi maupun akademisi seperti dari Universitas Padjadjaran, kerap disuguhi “bubui boled” atau ubi bakar khas desa, yang kemudian menjadi buah bibir karena cita rasanya yang istimewa.
Popularitas ubi Cilembu semakin meroket seiring dengan inovasi metode pengolahan, khususnya teknik pengovenan yang mampu mengeluarkan cairan manis menyerupai madu dari dalam ubi.
Inovasi ini memberikan karakter rasa yang kuat dan tekstur yang lembut, membedakannya dari ubi jalar biasa. Puncaknya terjadi pada era tahun 2000-an, di mana ekspansi pasar ubi Cilembu melesat tajam.
Kios-kios penjual ubi ini mulai bermunculan dan menjamur tidak hanya di Jawa Barat, tetapi hingga ke Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, dan Lombok.
Keberhasilan komoditas ini membawa perubahan nyata pada taraf hidup masyarakat Desa Cilembu.
Asep Suhara mencatat bahwa lonjakan permintaan pasar pada tahun 2000-an berbanding lurus dengan penurunan angka pengangguran dan peningkatan pendapatan per kapita warga.
Ubi yang dulunya hanya tanaman sela, kini menjadi tumpuan hidup yang mampu menyekolahkan anak-anak petani dan membangun infrastruktur ekonomi keluarga yang lebih mapan.
Kini, ratusan ton ubi didistribusikan keluar dari Desa Cilembu setiap harinya untuk memenuhi permintaan pasar domestik yang terus mengalir.
Prestasi desa ini tidak berhenti di pasar nasional; kualitas ubi Cilembu yang terjaga telah berhasil menembus pasar internasional melalui keran ekspor.
Hal ini membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang tepat dan inovasi yang berkelanjutan, potensi agraris pedesaan mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang berdaya saing global. (*/d)
Sumber.detikcom















