GERBANGDESA.COM, Jakarta – Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan meskipun harga minyak dunia tengah melonjak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kepastian tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kenaikan harga energi global.
Bahlil menegaskan bahwa pemerintah menjamin harga BBM bersubsidi tetap stabil hingga perayaan Idulfitri 2026 atau 1 Syawal 1447 Hijriah. Selain itu, ketersediaan stok energi nasional juga dipastikan aman, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi kelangkaan bahan bakar maupun LPG.
Menurutnya, lonjakan harga minyak mentah dunia saat ini memang dipicu oleh situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan United States memberikan tekanan besar terhadap pasar energi global.
Bahlil menjelaskan bahwa harga minyak mentah internasional telah melampaui angka USD100 per barel. Meski demikian, pemerintah menilai kondisi tersebut tidak memengaruhi ketersediaan stok energi di dalam negeri. Ia menekankan bahwa persoalan utama saat ini berkaitan dengan dinamika harga global, bukan pada pasokan.
Lebih lanjut, pemerintah sedang menyiapkan berbagai langkah strategis guna mengantisipasi dampak fluktuasi harga energi internasional. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas sektor energi nasional sekaligus melindungi daya beli masyarakat.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu kenaikan harga BBM bersubsidi. Bahlil memastikan bahwa distribusi BBM dan LPG di seluruh wilayah Indonesia berjalan normal serta tetap terjaga hingga masa Lebaran.
Lonjakan harga minyak dunia sendiri dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya jalur distribusi energi di Timur Tengah, yang merupakan salah satu kawasan penghasil minyak terbesar di dunia. Ketidakpastian tersebut turut mendorong harga minyak jenis Brent dan WTI bergerak di kisaran USD100 hingga USD110 per barel.
Meski tekanan harga global terus meningkat, pemerintah Indonesia menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi internasional. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pasokan energi nasional tetap stabil sekaligus menjaga agar kebijakan energi tidak memberatkan masyarakat, terutama pengguna BBM bersubsidi. (*/f)















